Sabtu, 28 Agustus 2010

MALAYSIA-INDONESIA

23 AGUSTUS 2010
INDONESIA-MALAYSIA
Aksi Tembak Polisi Diraja
MENDARAT di dermaga satu
Batam Center, kepala Asriadi
berkalung perban. Dengan kapal
feri Indomas III, ia datang dari
Johor Bahru, Malaysia, Selasa
petang pekan lalu. Pengawas
perikanan Batam itu tetap
berusaha tersenyum. Bersama
dua sejawatnya, Erwan dan
Seivo Grevo Wawengkang,
Asriadi menginjak kembali bumi
Indonesia.
Sejak Jumat malam empat hari
sebelumnya, mereka ditangkap
Polisi Diraja Malaysia di perairan
Tanjung Berakit, lalu disekap di
Johor. Mereka tiba didampingi
Happy Simanjuntak, Direktur
Pengawasan dan Sumber Daya
Perikanan, serta Nugroho Aji,
Direktur Pengawasan dan
Pelanggaran Kementerian
Kelautan dan Perikanan.
Penangkapan itu menciptakan
kegusaran di sejumlah tempat.
Sentimen anti-Malaysia, yang
pernah bangkit dalam beberapa
perkara terdahulu, kembali
bangun. Di Dewan Perwakilan
Rakyat pun terdengar suara
garang. Banyak pula yang
mempertanyakan sikap Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono,
yang tetap tenang tak terusik.
Sesaat setelah tiba di Batam,
Asriadi menyatakan perban di
kepalanya membalut luka akibat
terbentur dinding kapal, ketika
dipaksa polisi Malaysia pindah ke
kapal mereka. "Kapalnya tinggi,
ombaknya juga besar," kata
Asriadi. Belakangan, Asriadi
mengaku ke sejumlah orang
dekatnya, luka itu akibat kena
popor senjata.
Sumber di Konsulat Jenderal
Indonesia di Johor menguatkan
pengakuan Asriadi. Setibanya di
Johor, kata sumber itu, Asriadi
dilarikan ke rumah sakit karena
darah terus mengucur akibat
kena pukul gagang senapan.
Insiden ini bermula dari laporan
nelayan ke pengawas perikanan
Batam dan Karimun: lima kapal
pukat harimau berbendera
Malaysia masuk perairan
Indonesia, Jumat pagi dua pekan
lalu. Kapal-kapal itu beroperasi
di perairan dekat Tanjung
Berakit, Pulau Bintan, timur
Pulau Batam.
Asriadi, yang menerima laporan,
mengontak Hermanto,
pengawas perikanan Tanjung
Balai Karimun. Dia minta kapal
patroli Dolphin segera dibawa
ke Batam untuk patroli bersama.
Lepas tengah hari, Dolphin
menuju Batam. Hermanto
mengajak Ridwan dan Rudi,
sesama pengawas perikanan
dan kelautan Tanjung Balai
Karimun.
Satu setengah jam kemudian
mereka tiba di Batam. Asriadi
membawa dua pengawas Batam
lainnya, Erwan dan Seivo. Di
ujung senja, mereka mara ke
timur, menuju perairan Tanjung
Berakit.
Setengah jam berlayar, mereka
memergoki lima kapal itu
sedang menangkap ikan. Mereka
membekuk tujuh nelayan
Malaysia, untuk dibawa ke
Batam. Ketujuhnya adalah Faisal
bin Muhammad, Muslimin bin
Mahmud, Lim Kok Guan, Cheng
Ah Choy, Gazali bin Wahab,
Roszaidy bin Akub, dan Boh Khe
Soo Dum. Mereka diangkut kapal
Dolphin yang dinakhodai
Hermanto.
Asriadi, Seivo, dan Erwan
mengawal lima kapal tadi. Baru
berlayar lima mil menuju Batam,
Dolphin dipepet kapal patroli
Polisi Diraja Malaysia. Waktunya
pukul sembilan malam.
Hermanto dan kawan-kawan
diperintahkan pindah ke kapal
polisi Malaysia.
Sejumlah polisi Diraja
mengarahkan senjata laras
panjang ke Hermanto dan
kawan-kawan. Kapal patroli
Malaysia itu lebih besar daripada
Dolphin, yang panjangnya hanya
enam meter.
Hermanto menolak, sembari
menyatakan kapal Malaysia telah
masuk wilayah Indonesia. Polisi
Malaysia menjawab dengan dua
kali tembakan ke udara. "Kami
kocar-kacir," Hermanto
bercerita.
Dolphin melarikan diri ke arah
mercusuar Tanjung Berakit,
sedangkan kapal nelayan
Malaysia yang dikawal tiga
pengawas Indonesia direbut
polisi Malaysia. Sejam kemudian,
komandan kapal polisi Malaysia
menggunakan telepon seluler
Asriadi untuk mengontak
Hermanto. Dia memerintahkan
pelepasan nelayan Malaysia yang
ditangkap kapal Dolphin, untuk
ditukarkan dengan Asriadi,
Erwan, dan Seivo. Hermanto
menolak.
Karena tak ada kesepakatan,
polisi Malaysia membawa kapal
nelayan Malaysia dan tiga
pengawas kelautan dan
perikanan Indonesia itu ke
Malaysia. Sabtu dini hari,
Dolphin tiba di Sekupang,
Batam.
Ternyata, polisi Malaysia
menuduh pengawas kelautan
dan perikanan Indonesia
menculik nelayan Malaysia.
Komandan polisi Kota Tinggi
Johor, Superintenden
Muhammad Sebot, menyatakan
lima perahu yang ditangkap
pengawas kelautan Indonesia
itu berlayar di perairan Kota
Tinggi Johor. Mereka berjumlah
15 orang. Pengawas kelautan
Indonesia itu menangkap
mereka saat berada di lokasi 4
mil laut tenggara Tanjung
Pungga, Johor. Itu terjadi Jumat
dua pekan lalu, sekitar pukul
09.45.
Osman menyatakan hampir satu
jam kemudian datanglah patroli
polisi laut Malaysia. Mereka
memergoki lima perahu nelayan
sedang mengarah ke perairan
Indonesia bersama kapal milik
otoritas Indonesia. Patroli polisi
Malaysia, kata Osman, menyuruh
berhenti kapal pengawal
kelautan Indonesia. Tapi
perintah ini justru disambut
dengan mempercepat laju kapal
menuju perairan Indonesia.
Polisi Malaysia lalu menginspeksi
lima perahu nelayan itu dan
menemukan tiga pengawas
perikanan Indonesia berseragam
bersama delapan nelayan
Malaysia. Petugas Indonesia saat
itu tidak dilengkapi senjata.
"Tujuh nelayan dibawa di
perahu petugas Indonesia
menuju perairan Indonesia,"
kata Osman, seperti dikutip The
Star, koran terbitan Malaysia,
Ahad pekan lalu. Polisi Malaysia
kemudian menangkap tiga
pengawal laut Indonesia itu dan
membawa lima perahu nelayan
itu ke Pos Polisi Pangerang di
Johor.
Ajun Komisaris Besar
Mohammad Yasin, Direktur
Kepolisian Air Sekupang, sempat
menghubungi polisi Malaysia di
Johor, agar segera melepaskan
Asriadi, Erwan, dan Seivo. Yasin
menyatakan, jika ketiga orang
itu tak segera dilepas,
dampaknya bisa buruk. Jawaban
yang diterima Yasin, "Harus
melalui penyelesaian G to G."
Kementerian Kelautan dan
Perikanan segera mengutus
Happy Simanjuntak, Direktur
Pengawasan Sumber Daya
Perikanan dan Kelautan. Happy
menggambarkan, perundingan
berlangsung alot. Sempat terjadi
ketegangan di kantor polisi Kota
Tinggi, Johor, antara Happy dan
kepala polisi di sana.
Menurut Happy, sebetulnya pada
Senin siang pekan lalu, Asriadi,
Erwan, dan Seivo sudah bisa
bebas. Namun Malaysia meminta
Happy menunggu. Tapi, hingga
pukul sepuluh malam, Asriadi
dan teman-temannya belum
juga dibebaskan. Alasannya,
para polisi masih mengurus
kunjungan menteri besar
Kesultanan Johor.
Happy menggebrak meja.
"Lepaskan segera warga saya!"
ia menyergah. Tak lama
kemudian, berkas pembebasan
Asriadi dan teman-temannya
diproses. Setelah bebas, mereka
dijemput Minister Counselor
Konsulat Jenderal Johor Bahru
Suryana Sastradiredja, Selasa
pagi pekan lalu.
Barulah sehari setelah
pembebasan, pemerintah
Indonesia mengirim nota
diplomatik kepada Malaysia.
"Intinya berisi protes
pemerintah Indonesia atas
pelanggaran terhadap
kedaulatan Indonesia," kata
Menteri Luar Negeri Marty
Natalegawa, Rabu pekan lalu.
Marty menyatakan lokasi
kejadian merupakan wilayah
Indonesia.
Namun Malaysia juga punya
klaim di wilayah yang sama.
Klaim Indonesia didasarkan atas
Peta Nomor 349 Tahun 2009,
sedangkan Malaysia atas dasar
peta yang lebih tua, keluaran
1979.
Menteri Luar Negeri Malaysia
Anifah Aman mengatakan
kedekatan geografis Indonesia
dan Malaysia merupakan salah
satu faktor yang menyebabkan
seringnya terjadi gesekan.
"Semua diselesaikan dengan
cepat dan baik," katanya. Cuma,
kepala Asriadi telanjur bocor.
Sunudyantoro (Jakarta),
Rumbadi Dalle (Batam), Masrur
(Kuala Lumpur)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar